Bali NusraBeritaBerita NTBBreaking NewsBudayaDaerahKamtibmasKeamananLombokMataramNasionalNewsNewsbeatNTBNTB One TerkiniPemerintahanReligiSinergitas Pemda TNI POLRITNI-Polri

Ogoh-Ogoh Ramadan di Mataram, Simbol Harmoni yang Menguatkan Persatuan

×

Ogoh-Ogoh Ramadan di Mataram, Simbol Harmoni yang Menguatkan Persatuan

Sebarkan artikel ini

Mataram, NTB – Suasana berbeda terasa di Kota Mataram pada siang hari di bulan suci Ramadan. Arak-arakan ogoh-ogoh yang biasanya identik dengan perayaan Nyepi, kali ini hadir menyemarakkan Ramadan, melintasi sejumlah ruas jalan di wilayah Cakranegara, Jalan Pejanggik, Cakarabarat, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Wilayah Komando Ditrik Militer (Kodim) 1606/Mataram, Rabu (18/3/2026).

 

Di bawah terik matahari, ribuan warga tumpah ruah menyaksikan pawai budaya tersebut. Menariknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti umat Hindu, tetapi juga mendapat antusias tinggi dari masyarakat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa. Kebersamaan yang terjalin menghadirkan suasana hangat penuh toleransi di tengah keberagaman Kota Mataram.

 

Komandan Kodim (Dandim) 1606/Mataram, Kolonel Inf Nyarman, M.Tr.(Han)., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata kuatnya persatuan masyarakat.

“Ini adalah wujud nyata bahwa keberagaman di Mataram bukan menjadi pemisah, tetapi justru memperkuat persatuan. TNI akan selalu hadir mendukung setiap kegiatan positif yang menjaga kerukunan dan stabilitas wilayah,” ujarnya.

 

Hal senada disampaikan Kapolresta Mataram, Kombes Pol. Hendro Purwoko, S.I.K., M.H., yang mengapresiasi tingginya kesadaran masyarakat dalam menjaga ketertiban dan toleransi.

“Kami melihat langsung bagaimana masyarakat saling menghormati. Ini menjadi contoh bahwa keamanan dan kedamaian dapat terwujud jika semua pihak saling menjaga dan menghargai perbedaan,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, S.Sos., M.H., menyampaikan bahwa momentum ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar tradisi budaya.

“Kegiatan ini bukan hanya atraksi budaya, tetapi cerminan kehidupan harmonis masyarakat Mataram. Persatuan seperti inilah yang harus terus kita rawat sebagai kekuatan utama dalam membangun daerah,” tegasnya.

 

Di sisi lain, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Mataram, I Wayan Kari Oka, menjelaskan bahwa pelaksanaan ogoh-ogoh di bulan Ramadan merupakan bentuk kebersamaan dalam mempererat hubungan antarumat beragama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya bisa menjadi jembatan persatuan. Tidak ada sekat di sini, semua bersatu dalam semangat kebersamaan dan saling menghormati,” jelasnya.

 

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, ogoh-ogoh di bulan Ramadan ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan. Justru dari keberagaman itulah lahir kekuatan sosial yang mampu menjaga keharmonisan.

 

“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang hidup dan tumbuh dalam keseharian masyarakat,” tutup Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dalam sambutannya.

 

Di tengah berbagai tantangan yang kerap menguji persatuan bangsa, Mataram kembali menunjukkan wajahnya—sebagai kota yang damai, rukun, dan menjunjung tinggi kebhinekaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *